Saturday, May 9, 2009

Batu Kapur

Salah satu mineral industri yang banyak digunakan oleh sektor industri, konstruksi dan pertanian adalah batu kapur. Adanya peningkatan kebutuhan akan sektor ini dan ketersediaan yang cukup banyak dan merata di Indonesia merupakan salah satu pertimbangan untuk mengeksploitasi dan mengembangkan bahan galian ini, disamping kemudahan cara penambangannya.

Batu kapur secara geologi dapat terjadi dengan beberapa cara yaitu secara organik, secara mekanik dan secara kimia. Sebagian besar batu kapur di alam terjadi secara organik, yaitu terjadi dari hasil pengendapan cangkang/rumah kerang dan siput, foraminifera atau ganggang, atau berasal dari kerangka binatang koral/kerang.

Batu kapur yang terjadi secara mekanik yaitu terjadi dari hasil perombakan dari hasil dari batu kapur yang sudah ada kemudian terbawa oleh arus dan kemudian diendapkan yang tidak jauh dari tempatnya semula. Sedangkan batu kapur yang terjadi secara kimia yaitu terjadi dalam kondisi iklim dan suasana lingkungan tertentu dalam air laut maupun air tawar.

Selain itu batu kapur dapat terjadi dari hasil peredaran air panas alam yang melarutkan lapisan batu kapur di bawah permukaan, yang kemudian diendapakan kembali di permukaan bumi.

Batu kapur bisa berwarna dan diklasifikasikan namanya, tergantung dari unsur pengotornya. Magnesium, lempung, pasir, mangaan dan unsur organik merupakan unsur pengotor yang mengendap bersama-sama pada saat proses pengendapannya. Keterdapatan unsur pengotor tersebut bisa memberikan klasifikasi jenis batu kapur. Apabila unsur pengotornya magnesium, maka batu kapur tersebut diklasifikasikan sebagai batu kapur dolomitan, bila unsur pengotornya lempung, kama batu kapur tersebut diklasifikasikan sebagai batu kapur lempungan. Bila unsur pengotornya pasir maka disebut batu kapur pasiran.

Warna batu kapur yang kemerah-merahan disebabkan oleh unsur mangaan, sedangkan yang berwarna hitam bisa disebabkan oleh adanya unsur organik.

Batu kapur dapat bersifat keras dan padat, tetapi dapat pula sebaliknya. Selain yang pejal (masive) dijumpai yang poreus. Batu kapur juga bisa menjadi berhablur jika mengalami proses metamorfosa yaitu karena pengaruh tekanan dan panas, seperti pada batuan marmer. Batu kapur yang mengalami proses metamorfosa akan berubah kenampakan maupun sifat-sifatnya. Selain itu air tanah juga dapat mempengaruhi pengahbluran pada permukaan batu kapur, sehingga bisa berbentuk hablur kalsit.

Batu kapur juga bisa dijumpai di gua dan sungai bawah tanah. Ini terjadi sebagai akibat reaksi tanah. Air hujan yang mengandung CO3 dari udara maupun dari hasil pembusukan zat-zat organik di permukaan setelah meresap ke dalam tanah dapat melarutkan batu kapur yang dilaluinya, sehingga lambat laun akan terbentuk rongga-rongga di dalam tubuh batu kapur tersebut.

Di Kabupaten Trenggalek, banyak sekali dijumpai batuan ini dan cadangannya cukup besar, tetapi belum ada investor besar yang tertarik untuk mengusahakannya. Mungkin salah satu faktornya adalah karena transportasi dan lokasinya ada di lokasi milik Perhutani.

Sunday, April 12, 2009

Bijih Besi

Bijih Besi
Besi (Fe) merupakan material penyusun utama kerak bumi kedua terbanyak yaitu sekitar 5 %. Secara geokimia merupakan logam yang melimpah di alam. Konsentrasi besi yang melimpah di suatu tempat disebut sebagai bijih besi.
Bijih besi biasanya tersusun oleh mineral magnetit (FeO Fe2O3) yang mengandung 72,4 % Fe, ilmenit (FeO TiO2) 36,8% Fe, hematit (Fe2O3) 69,94% Fe, goethit (FeO OH) 62% Fe, siderit (FeCO3) 48,2% Fe. Mineral lain yang mengandung besi seperti pirit (FeS2) 46,5% Fe, pirhotit (FeS) 63,5% Fe, tidak dapat dianggap sebagai sumber utama besi, karena kesulitan-kesulitan teknis pengolahannya. Magnetit sering diikuti oleh unsur-unsur lain seperti titanium, mangaan, magnesium dan vanadium. Endapan ini kadang-kadang mengandung emas dan platina, jika batuan pembawanya berasosiasi dengan batuan-batuan basa-ultrabasa.bahan baku untuk industri baja dan industri alat-alat rumah tangga. Hasil industri besi yang cukup terkenal disebut sebagai besi gubal (pig iron). Di beberapa negara produsen baja, belakangan ini telah terjadi peningkatan permintaan akan bijih besi. Negara-negara konsumen bijih besi terbesar di dunia adalah seperti China, Amerika Serikat dan Jepang.
Kadar paling rendah dari endapan bijih besi yang dapat ditambang atau dikenal dengan istilah cut-off grade adalah sekitar 32% Fe, namun sekarang ini paling tidak sekitar 60% Fe baru dapat dikatakan layak untuk ditambang.

Di Kabupaten Trenggalek bijih besi dapat dijumpai di beberapa lokasi dan tersebar baik dalam bentuk perlapisan maupun sebagai bongkah-bongkah. Penyebaran endapan bijih besi dapat dijumpai di Desa Watuagung, Kecamatan Dongko. Jumlah total sumberdaya tereka endapan batubesi didaerah ini adalah berjumlah sekitar 88,5 juta ton. 

Endapan bijih besi di daerah ini mempunyai karekteristik tekstur klastik dengan ukuran butir pasir, bentuk butir meruncing tanggung hingga bundar. Tersusun oleh magnetit, hematit dengan matriks mineral lempung dan semen kuarsa. Berat jenis 2,05 – 3,92 gr/cm3. Kualitas endapan batubesi mengandung oksida besi 40,62 – 76,10% (% berat), bijih besi (ilmenit, hematit, magnetit) 46,68 – 85,94% (% berat), bijih besi (ilmenit, hematit, magnetit) 17,50 – 86 % (% volume). 

Sudah banyak sekali investor yang melihat lokasi bijih besi ini. Sayang, sampai saat ini belum ada investor besar yang bisa mengusahakan bijih ini. Kendala utama adalah karena lokasi ada di wilayah perhutani dan lokasi jauh dari jalan besar.